(0 pemilihan)

Workshop “Strategi Pengelolaan Media Sosial Sekolah” Hari ke-1 Pilihan

SMP Xaverius 2 Bandar Lampung mengikuti workshop “Strategi Pengelolaan Media Sosial Sekolah” diselenggarakan oleh Yayasan Xaverius Tanjungkarang pada Senin–Selasa, 20–21 April 2026 di GSG Gentiaras Way Halim. Kegiatan ini diikuti oleh 47 peserta yang terdiri dari tenaga pendidik dan kependidikan dari jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA di bawah naungan Yayasan Xaverius Tanjung Karang. Seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan aktif dan penuh antusiasme. Dalam kegiatan ini SMP Xaverius 2 Bandar Lampung diwakili oleh Kepala Sekolah Ibu Sisilia Surasi Andriani, S.Si.,M.M, bapak Vincen Simatupang, S.Si dan ibu Maria Angelina Hutagalung, S.Pd.

Pada hari pertama ini, acara dibuka oleh moderator Stefanus Sarji, dilanjutkan dengan doa dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Sambutan pertama disampaikan oleh koordinator kegiatan, F. Joko Winarno, yang menekankan bahwa workshop ini menjadi momentum penting untuk memperluas wawasan, berbagi pengalaman, serta memperkuat kolaborasi antarunit dalam mengelola media sosial sekolah secara lebih terarah dan profesional. Ia juga menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman peserta mengenai strategi pengelolaan media sosial melalui pendekatan digital, konten kreatif, serta optimalisasi platform untuk mendukung daya saing sekolah, khususnya dalam mendukung keberhasilan SPMB. Peserta diajak untuk bersikap terbuka, tidak reaktif terhadap kebijakan, dan bersama-sama mencari strategi terbaik yang relevan dengan perkembangan zaman.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua Yayasan, Romo RD. Andreas Sutrisno, sekaligus membuka kegiatan secara resmi. Dalam arahannya, beliau menegaskan bahwa media sosial memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir, bertindak, dan berinteraksi. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan kebijaksanaan dalam penggunaannya. Media sosial pada dasarnya bersifat netral, sehingga dampaknya baik positif maupun negatif ditentukan oleh cara penggunaannya. Sekolah memiliki peluang besar untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana membangun citra positif melalui publikasi kegiatan, prestasi, proses pembelajaran, serta pengembangan kurikulum. Selain itu, beliau mengajak peserta untuk melakukan refleksi diri dan menggunakan media sosial sebagai sarana mewartakan nilai-nilai karakter serta kebaikan, sehingga mampu menjadi “garam dan terang dunia” juga di ruang digital.

Pada sesi pertama, Romo RD. Krisantus Ian Bagas Brahmanthio membawakan materi tentang “Peran media sosial dalam menumbuhkan iman, harapan, dan kedekatan dengan Tuhan”. Ia menekankan bahwa teknologi merupakan anugerah yang harus dimanfaatkan secara bijak, terutama untuk hal-hal yang membangun. Media sosial dapat berfungsi sebagai sarana evangelisasi, pendidikan iman, membangun persekutuan, serta media komunikasi dan dialog dengan masyarakat luas. Penggunaan yang tepat diharapkan mampu mempererat relasi manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan.

Sesi kedua menghadirkan Romo Fransiskus Xaverius Dista Kristanto dengan materi “Menjadi Guru di Era Media Sosial.” Ia menekankan bahwa guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai teladan dalam penggunaan media sosial. Guru dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan memahami karakter generasi digital. Media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran, komunikasi, dan penguatan citra sekolah, namun tetap harus digunakan secara bijak, etis, dan bertanggung jawab. Selain itu, guru juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter siswa agar kritis dan selektif dalam menerima informasi.

Pada sesi ketiga, Associate Prof. Dr. Anggalia Wibasuri memaparkan “Strategi branding sekolah berbasis nilai dan kepercayaan di era digital”. Ia menjelaskan bahwa branding tidak hanya sebatas promosi, tetapi harus mencerminkan pengalaman nyata dan nilai yang hidup di sekolah. Kepercayaan dibangun melalui kesesuaian antara janji dan realitas yang dirasakan oleh peserta didik. Strategi yang dapat diterapkan antara lain menentukan nilai inti sekolah, menyampaikan pesan yang konsisten, serta menampilkan bukti nyata seperti testimoni orang tua, prestasi siswa, dan transparansi program. Konten kreatif seperti dokumentasi kegiatan harian, digital open house, siaran langsung, serta keterlibatan alumni juga menjadi bagian penting dalam memperkuat citra sekolah.

Sesi keempat disampaikan oleh Y. Gisik Priambo dengan topik “Publikasi Kegiatan Kolaborasi.” Ia menekankan bahwa publikasi merupakan kerja tim yang memerlukan perencanaan dan alur yang jelas. Bentuk publikasi dapat berupa foto dengan caption yang kuat, artikel, video, maupun testimoni. Konsistensi menjadi kunci utama dalam membangun citra sekolah melalui media sosial. Ia juga menegaskan bahwa sekolah yang baik namun tidak dipublikasikan dengan baik akan kalah bersaing dengan sekolah yang mampu menampilkan kegiatannya secara konsisten. Oleh karena itu, setiap kegiatan perlu didokumentasikan dan dibagikan sebagai bagian dari upaya membangun kepercayaan publik.

Secara keseluruhan, workshop ini memberikan pemahaman yang komprehensif kepada peserta mengenai pentingnya pengelolaan media sosial yang strategis, kreatif, dan bertanggung jawab. Melalui kegiatan ini, diharapkan seluruh peserta mampu mengoptimalkan media sosial sebagai sarana komunikasi, edukasi, dan promosi yang efektif, sehingga dapat memperkuat citra serta meningkatkan daya saing sekolah di era digital. Demikian kegiatan workshop hari pertama ini, terus semangat untuk unggul tranformatif berkarakter kolaboratif dalam kemandirian dengan semangat HK3P.

SALAM XAVEPA GEMILANG

Penulis : Maria Angelina Hutagalung, S.Pd. dan Sisilia Surasi Andriani, S.Si., M.M.

Baca 104 kali
SMP Xaverius 2 Bandar Lampung

Manusia Yang Unggul dalam Humanitas, Kecerdasan, Kajujuran, Kedisiplinan, dan Pelayanan

xav2
Selengkapnya di dalam kategori ini: « HiLo Teen Hadirkan Semangat Hidup Sehat di Xavepa