Di tengah
masifnya arus kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) dan
disrupsi teknologi yang melibas berbagai lini kehidupan, dunia pendidikan
dihadapkan pada ujian berat: kehilangan sentuhan kemanusiaan. Menjawab
kegelisahan tersebut, Yayasan Xaverius Tanjungkarang menggelar acara bedah buku
karya RD Nicolaus Heru Andrianto bertajuk Merapikan Jala Kehidupan di Era AI
dan Disrupsi Teknologi pada Jumat, 9 Oktober 2026 di Aula SMA Xaverius 2
Bandar Lampung. Acara yang dihelat di Aula SMA Xaverius 2 Bandar Lampung ini
dihadiri secara antusias oleh ratusan sumber daya manusia (SDM), mulai dari
guru, tenaga kependidikan, hingga pimpinan unit dari berbagai sekolah di bawah
naungan yayasan.
Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Xaverius Tanjungkarang, RD Andreas
Sutrisno, menegaskan bahwa buku karya Romo Heru ini merupakan bentuk refleksi
perjalanan panjang dunia pendidikan yang melibatkan seluruh ekosistem di
dalamnya.
“Tujuannya agar kita dapat memperbaharui cara kita
melihat manusia dalam pendidikan di tengah segala aspek yang bertransformasi.
Dalam dunia pendidikan, yang diproses bukan sistemnya, melainkan manusia: mulai dari murid, guru,
tenaga kependidikan, pemimpin, keluarga, hingga komunitas,” ungkap Romo Sutris.
Ia menambahkan, di sinilah pastoral sekolah memegang peranan vital untuk
memastikan identitas yayasan tetap hidup, spiritualitas menjadi jiwa,
nilai-nilai dasar terjaga, dan manusia senantiasa menjadi pusat dari setiap
proses pembelajaran.
Sementara itu, sang penulis, RD Nicolaus Heru
Andrianto, memaparkan refleksi mendalam mengenai realitas hari ini. Menurutnya,
AI tidak lagi sekadar alat bantu, melainkan kerap dijadikan jalan pintas saat
manusia terjebak dalam kebuntuan. Namun di balik kecanggihannya, tersimpan
dampak sistemik yang jarang disadari.
“Rupanya penggunaan AI berpengaruh terhadap krisis
ekologi kita. Keuntungan mengalir ke luar negeri, sedangkan beban kerusakan
lingkungan kita yang menanggungnya,” tutur Romo Heru di hadapan para peserta.
Ia juga menyoroti bagaimana teknologi menggeser
tradisi lama. Perpustakaan dan buku mulai kehilangan denyutnya, sementara
generasi muda berlayar dengan kecepatan internet, meninggalkan tradisionalisme
yang dianggap membosankan. Di sisi lain, para pendidik kerap terjebak dalam
kelelahan fisik dan psikis. Terlalu sibuk mengejar ketertinggalan teknologi, guru justru lupa pada
eksistensi diri dan kehilangan waktu untuk sekadar berhenti sejenak, merapikan
jala, dan menata panggilannya.
“Kita tidak sedang melawan teknologi, tetapi
belajar menata diri di tengah arus teknologi. Kita sedang merawat jala kehidupan kita dengan
merapikannya, sembari merencanakan hari esok yang lebih baik,” ujar Romo Heru.
Mengambil inspirasi dari kisah perikanan dalam
Kitab Suci (Lukas 5:2-6), di mana para murid meluangkan waktu membereskan jala
yang robek demi tangkapan yang lebih besar, Romo Heru mengingatkan bahwa jala
pikiran, hati, relasi, waktu, pekerjaan, dan spiritualitas perlu diperbaiki. Sebab, betapapun canggihnya AI dalam
mengolah data, teknologi tidak akan pernah mampu menyalurkan kasih, empati,
kebijaksanaan, dan nurani manusia.
Sebagai tindak lanjut dari dinamika dan tantangan
zaman yang dipotret dalam bedah buku tersebut, Yayasan Xaverius Tanjungkarang menegaskan kembali arah strategis
melalui Rencana Pastoral Sekolah.
RD Pius W. Adityo Raharjo selaku bidang Pastoral
Sekolah menjelaskan bahwa paradigma pastoral sekolah dirancang bukan sekadar
sebagai kegiatan keagamaan rutinitas, melainkan sebagai fondasi transformatif
bagi seluruh warga sekolah.
“Pastoral sekolah hadir sebagai pendamping
pertumbuhan, saluran kasih, dan pembangun persaudaraan, mengembangkan panggilan
pelayanan, serta menghadirkan transformasi manusia dan komunitas,” jelas Romo
Pius.
Rencana pastoral sekolah ini
berakar dan digerakkan oleh
beberapa pilar utama:
1. Spiritualitas dan Nilai Dasar: Dilandasi
oleh semangat spiritualitas Santo Fransiskus Xaverius, keuskupan, empat Roh
Yayasan Xaverius, serta nilai-nilai HK3P (Humanis, Kecerdasan, Kejujuran,
Kedisiplinan, Pelayanan) dan Profil Insan Xaverius.
2. Integrasi Teknologi dan Humanisme:
Memastikan bahwa perkembangan digital dan adopsi AI berjalan seiring dengan
penguatan karakter, di mana teknologi ditempatkan sebagai alat pemberdayaan,
bukan pengganti relasi manusiawi.
3. Penyembuhan dan Perawatan Diri Pendidik (Self-Care
dan Reflection): Memberikan ruang bagi para pendidik untuk melakukan
refleksi berkala, keluar dari kejenuhan psikis, serta menemukan kembali api
panggilan hidupnya (vocation) di tengah tekanan modernitas.
4. Siklus Refleksi dan Aksi Berbasis Kasih:
Membudayakan siklus positif yang mencakup refleksi, evaluasi, dan tindak lanjut
konkret, dengan menyertakan Tuhan sebagai "kompas utama" yang
menuntun langkah pelayanan pendidikan.
Melalui sinergi antara literasi kritis,
pemanfaatan teknologi yang bijak, dan kuatnya pilar pastoral sekolah, acara
bedah buku ini ditutup dengan sesi diskusi interaktif. Para peserta sepakat
bahwa memperbarui "jala kehidupan" masing-masing adalah kunci utama
untuk menyongsong masa depan pendidikan yang lebih bermakna, berakar pada iman,
dan tetap manusiawi.
Secara keseluruhan, buku Merapikan Jala
Kehidupan di Era AI dan Disrupsi Teknologi berakar dari berbagai isu
pendidikan, keprihatinan mendalam, serta refleksi lintas perspektif mengenai
relasi antara teknologi, paradigma zaman, dan dunia pendidikan yang melibatkan
seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pendidik, peserta didik, hingga
gereja.
Rangkaian acara bedah buku ini pada akhirnya
bermuara pada ruang diskusi dan sharing yang hangat antara peserta dan
penulis. Dari dialog tersebut, ditemukan sebuah titik temu yang krusial:
pentingnya setiap individu untuk memperbaiki "jala kehidupan"
masing-masing sebagai persiapan menyongsong babak baru yang lebih baik. Melalui
penanaman siklus positif yang berpilar pada refleksi, evaluasi, dan tindak
lanjut nyata, peserta diajak untuk senantiasa mendasarkan setiap langkah pada
kasih.
Berlandaskan semangat tersebut, para pendidik
diingatkan untuk terus menyertakan Tuhan sebagai kompas sejati yang tak akan
pernah kalah canggih oleh algoritma AI. Dengan demikian, para pendidik tidak
akan kehilangan aktualisasi diri, melainkan mampu menemukan kembali esensi diri
yang utuh setelah sempat tenggelam dalam gelora arus disrupsi teknologi.
Disusun
oleh: Christina Natalia Setyawati, S.Pd.
Kolom Tanggapan (0)
Belum ada tanggapan untuk artikel ini. Jadilah yang pertama!
Tinggalkan Tanggapan